Sangat natural. Untuk anak-anak pemeran film ini, empat jempol pantas diacungkan.
PERANG menyisakan derita kemanusiaan. Anak-anak adalah kelompok yang paling merasakan derita itu. Jiwa mereka akan tumbuh dengan luka yang membekas, sementara hati mereka disesaki dengan dendam kesumat yang tak mudah hilang. Lanjutkan membaca “Resensi film: Turtles Can Fly”
Aksi lempar sepatu ke arah politisi Bosnia Haris Siladjzic (Foto: AFP)
Sepatu lebih bisa lebih kencang bersuara dibanding tulisan seorang jurnalis. Setidaknya itulah pelajaran yang diambil dari aksi melempar sepatu yang dilakukan jurnalis Irak, Muntadar al-Zeidi, kepada Presiden Amerika Serikat George W Bush, Desember lalu. Terbukti, sepatu al-Zeidi lebih bisa menggambarkan mendalamnya kebencian masyarakat Irak kepada Bush. Lanjutkan membaca “Melempar sepatu jadi tren”
Tentara Israel biadab di utara Jalur Gaza, 5 Januari 2009 (Foto: Reuters)
Hingga detik ini warga Palestina di Jalur Gaza masih merasakan penderitaan yang luar biasa akibat kebrutalan Zionis Israel. Penderitaan semakin berat karena minimnya respons dari negara-negara Arab. Lanjutkan membaca “Menyesalkan respons minim Arab”
Facebook mewabah. Situs pertemanan daring ini menjadi epidemi yang menjangkiti kaum netters. Tak pandang usia, tidak pula status sosial. Ada yang muda, banyak juga yang sudah berumur. Ibu rumah tangga hingga politisi kakap memanfaatkan website jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg, si jenius yang tidak lulus dari Harvard University, ini. Lanjutkan membaca “Demam Facebook”
Seorang kawan di kantor memutar lagu Do-Re-Mi. Mendengar lagu ini mengingatkanku pada film The Sound of Music. Ya, Do-Re-Mi adalah salah satu lagu pendukung di film yang dibintangi Julie Andrews dan Christoper Plummer itu. Lanjutkan membaca “Resensi film: The Sound of Music”
“Do you spend time with your family? Good. Because a man that doesn’t spend time with his family can never be a real man.” –Don Vito Corleone, The Godfather (1972)–
Tahun 2008 adalah masa suram bagi perekonomian dunia. Tak ada kawasan yang luput dari krisis yang berpangkal di Amerika Serikat di tahun tikus ini. Kasus kredit perumahan berkualitas rendah (subprime mortgage) di Negeri Paman Sam telah menjadi benih krisis finansial yang menyebar ke seluruh penjuru dunia. Lanjutkan membaca “Perekonomian suram di Tahun Tikus”
Harga bahan bakar minyak kembali diturunkan. Kebijakan itu sangat melegakan masyarakat, terutama para pemilik kendaraan bermotor. Lebih jauh pemangkasan itu diharapkan mampu memberikan efek domino perekonomian yang lebih besar bagi masyarakat, seperti turunnya harga-harga barang. Lanjutkan membaca “Jangan cuma jadi macan ompong”
Hingga kini pemerintah masih bersikukuh belum akan menerapkan jaminan penuh atau blanket guarantee terhadap dana deposan di perbankan. Padahal, jaminan itu diperlukan untuk mencegah larinya dana (capital flight) ke luar negeri akibat tidak adanya rasa aman dalam menyimpan uang di perbankan Tanah Air. Lanjutkan membaca “Mendesak blanket guarantee”
Berlian, sama halnya seperti minyak, selama bertahun-tahun telah menjadi bahan bakar peperangan dan kejahatan kemanusiaan. Di wilayah Afrika, berlian menjadi komoditas yang untuk memerolehnya harus menggunakan darah. Lanjutkan membaca “Berlian yang membakar perang”
Selama ini kita sudah mengetahui kisah Mowgli, si anak hutan, dari film ataupun buku. Dalam kehidupan nyata, ada seorang anak perempuan yang kisahnya mirip dengan Mowgli. Dia bernama Tippi Degré. Lanjutkan membaca “Tippi, gadis Prancis di hutan Afrika”
Belum pernah ada sambutan yang begitu meriah dan sangat luas atas terpilihnya seorang kepala negara, seperti saat kemenangan Barack Obama dari John McCain. Kemenangan itu seakan menghadirkan harapan baru bagi masyarakat global, setelah selama delapan tahun terakhir, Amerika Lanjutkan membaca “Obama dan sambutan dunia”
Sri Mulyani, Menteri Keuangan, termasuk keras terhadap kelompok Bakrie. Beberapa waktu lalu, Sri mendesak agar suspensi saham enam perusahaan di grup Bakrie dibuka. Dia juga menentang upaya penyelamatan bisnis Bakrie yang tengah terperosok sangat dalam oleh sejumlah BUMN. Lanjutkan membaca “Sri Mulyani akan dicopot?”
Kamis 22 Oktober pukul 15.00 WIB, aku menghadiri undangan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk menonton film tentang perjalanan seorang politisi untuk meraih kursi senator. Tiba di Kedutaan AS lebih cepat beberapa menit membuatku harus menunggu selama sekira setengah jam. Ternyata aku dan temanku, Ahmad Dhani, datang lebih dahulu dibanding undangan yang lainnya. Bersama kami ada Satrio Arismunandar, produser di Trans TV. Lanjutkan membaca “Resensi film: Bob Roberts”
Harian Seputar Indonesia pada 20 Oktober memuat tulisan Wimar Witoelar berjudul “Menyelamatkan Bakrie”. Tulisan itu sangat pedas, dan mengungkap adanya keterkaitan bisnis-politik (baca: konspirasi) antara Bakrie-SBY-Kalla. Ada keterkaitan dan saling “membutuhkan” (ketergantungan) di antara ketiganya. Lanjutkan membaca “Bakrie vs Wimar Witoelar”
Harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir mengalami penurunan yang signifikan. Penurunan ini semestinya disambut dengan turunnya harga bahan bakar minyak (BBM), baik yang bersubsidi atau nonsubsidi. Lanjutkan membaca “Turunkan harga BBM”
Selain mengamati pergerakan pasar saham yang terus menurun, mata dunia saat ini juga menyoroti terus turunnya harga minyak dunia.
Dalam tiga bulan ini, harga emas hitam itu telah turun hingga 45 persen, dari sekira USD147 per barel pada Juli lalu. Harga minyak sempat menyentuh USD72 per barel pada Rabu 15 Oktober kemarin.
Sejumlah institusi keuangan di Amerika Serikat berjatuhan, dan berimbas kepada stabilitas perekonomian dunia, dari Asia hingga Eropa. Kebangkrutan lembaga-lembaga keuangan itu belum berakhir, seperti diprediksi sejumlah kalangan.
Krisis keuangan kembali menghantam dunia. Krisis kali ini diawali oleh kekacauan pada pasar kredit, yang meluas hingga mengacaukan stabilitas di pasas modal. Kini, tak kurang beratus-ratus miliar dolar dana talangan dikucurkan pemerintah sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, dan Jepang.
Krisis keuangan pernah beberapa kali menghantam perekonomian dunia. Seharusnya, krisis yang pernah terjadi sebelumnya bisa dijadikan pelajaran untuk mengatasi krisis yang terjadi saat ini.
Dikutip dari BBC, beberapa pelajaran yang bisa diambil antara lain: pertama, globalisasi telah meningkatkan frekuensi dan penyebaran krisis keuangan; kedua, intervensi sejak awal oleh bank sentral cukup efektif membatasi perluasan krisis, dibandingkan intervensi yang datang terlambat; ketiga, untuk saat ini sulit diprediksi apakah krisis akan memperluas konsekuensi dari perekonomian.
Berikut catatan krisis yang pernah terjadi, dalam hitungan mundur:
Kehancuran Bisnis Dot.Com, 2000
Selama akhir 1990-an, bursa saham dibohongi oleh pertumbuhan perusahaan internet seperti Amazon dan AOL, yang seakan-akan bakal mengantarkan dunia kepada era baru perekonomian.
Saham-saham perusahaan dot com melambung tinggi saat listing di bursa Nasdaq, meski kenyataannya hanya sedikit perusahaan yang menghasilkan laba.
Guncangan mencapai puncaknya ketika AOL membeli perusahaan media tradisional Time Warner seharga USD200 miliar pada Januari 2000. Namun pada Maret 2000, gelembung bisnis dot com pecah, dan membuat indeks Nasdaq jatuh hingga 78 persen pada Oktober 2002.
Krisis perekonomian terus memburuk, yang diikuti kejatuhan investasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Krisis itu semakin diperburuk oleh serangan 11 September, yang juga membuat pasar keuangan ditutup untuk beberapa waktu. Lanjutkan membaca “Krisis Keuangan, Belajar dari Sejarah”