Demam Facebook

facebookku

Facebook mewabah. Situs pertemanan daring ini menjadi epidemi yang menjangkiti kaum netters. Tak pandang usia, tidak pula status sosial. Ada yang muda, banyak juga yang sudah berumur. Ibu rumah tangga hingga politisi kakap memanfaatkan website jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg, si jenius yang tidak lulus dari Harvard University, ini. Lanjutkan membaca “Demam Facebook”

jurnalis dan media online

 

okezone.jpg

perkembangan internet telah membuat semakin bervariatifnya output yang disajikan di sebuah media online. terlebih, hadirnya generasi baru web, yaitu web 2.0, menuntut adanya ruang lebih bagi konsumen pembaca untuk turut terlibat dan saling berinteraksi dalam multi-wadah.

ketrampilan kunci bagi setiap jurnalis di era baru media adalah kemampuan beradaptasi. perkembangan teknologi web membuat produk yang dihasilkan semakin bervariatif. tak hanya berbasis teks (atau hypertext), kini produk media online berkembang dengan menyajikan video, audio, gambar, slideshow, animasi, flash interactivity, blogs, microblogging, community element (forums, wikis, social networking, polls, and surveys), live chat, etc.

ini berarti seorang jurnalis online harus menjadi ahli atau setidaknya memahami hal-hal di atas.

  • dapat menulis dengan baik, teliti, dan cepat, di lebih dari satu medium
  • dapat mencari informasi akurat dan terpercaya secara cepat
  • harus memahami prinsip dasar video, audio, dan foto
  • harus dapat menggunakan software editing
  • memahami interaktivitas dan mengelola komunitas online
  • memahami perkembangan web 2.0 seperti facebook, flickr, youtube, atau blog. jika memungkinkan, bahkan, mereka perlu menjadi anggota produktif dari salah satu itu, agar dapat memahaminya lebih mendalam.

Jurnalisme Warga

Jurnalisme warga (citizen journalism) juga dikenal dengan jurnalisme partisipatif. Merupakan aktivitas masyarakat biasa –nonjurnalis­– dalam mengumpulkan, melaporkan, menganalisa, dan menyebarkan berita dan informasi.

Mengenai istilah, banyak yang menyebutnya dengan jurnalisme open source, netizen, media warga (citizen media), dan jurnalisme berjaringan (networked journalism).

Jurnalisme warga mulai muncul pada 1988 saat pemilu presiden di Amerika Serikat, sebagai tandingan dari pemberitaan di media dan meluasnya kekecewaan publik terhadap permainan politik. Pada 2004, saat pemilu presiden di AS, sejumlah blogger menjadi pemantau kerja konvensional jurnalis, memonitor kerja mereka dari bias dan ketidakakuratan. Jay Rosen, seorang profesor jurnalisme di Universitas New York merupakan salah satu pelopor.

Intinya, netizen adalah yang dapat memberikan ruang bagi publik untuk terlibat dalam pemberitaan.

Pada prinsipnya, konsep citizen journalism berkaitan dengan publik secara luas. Artinya, informasi yang disampaikan kepada oleh citizen journalist (CJ) adalah informasi yang dapat dibagi kepada orang lain, tidak sekadar curhat si CJ.

Masyarakat, dalam ruang yang disediakan, menjadi pewarta atas peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Mereka juga bisa melakukan lebih jauh, seperti halnya yang dilakukan jurnalis professional, seperti mewawancarai tokoh, membuat feature, opini, foto, ataupun tulisan yang sifatnya analisis.

Artinya, publik tidak hanya diberikan ruang yang sangat terbatas, untuk menyampaikan informasi yang hanya sekadar informasi pantulan, seperti adanya jalan berlubang, atau hanya sekadar informasi awalan saja.