The Billion Dollar Code: Benarkah Google Earth Ide Curian?

The Billion Dollar Code (Screenshot Netflix)

Serial baru Netflix yang dirilis di pekan pertama Oktober 2021, The Billion Dollar Code, mengangkat kisah dua pionir bisnis internet di Berlin yang ingin mengungkap fakta bahwa Google mencuri ide mereka.

Kisahnya bermula tahun 1993 tentang dua pemuda, Carsten Schulter, mahasiswa sekolah seni dengan segudang ide, dan Juri Muller, anak muda penggila komputer.

Alur film ini sendiri dibuat maju-mundur (non-linier), berlatar tahun 1993an dan 25 tahun setelahnya. Alur maju ketika perusahaan Art+Com mulai mengajukan gugatan terhadap Google. Sedangkan alur mundur pada awal 1990an berlatar suasana beberapa tahun setelah Tembok Berlin diruntuhkan, di masa-masa awal unifikasi Berlin. Kekacauan masih terjadi di sebelah timur Tembok, sementara bagian Barat kondisinya jauh lebih baik.

Carsten sendiri adalah mahasiswa Universitas Seni Berlin (UdK) di siang hari dan menghabiskan malam di bar atau kelab ilegal di Jerman Barat. Tertarik pada seni non-tradisional yang belum pernah ada, seperti instalasi video, seni digital, realitas maya. Semuanya avant garde.

Sayang karya-karyanya diremehkan para profesor di kampus, yang malah menyarankan dia membuat karya seni sesungguhnya. Tentu yang dimaksud adalah karya seni tradisional dalam versi Carsten.

Ketika mendemonstrasikan karya visual interaktif, komputer hang. Inilah yang semakin membuat salah seorang profesor kesal. “Seni itu bukan sesuatu yang bisa hang, bukan omong kosong Pac-Man ini”.

Penolakan itu membuat Carsten sadar, dia butuh bantuan programmer komputer.

Suatu ketika, Juri, si programmer, singgah ke kelab yang memainkan warna-warni karya visual Schluter di layar komputer, mengikuti irama musik tekno. Keduanya lalu bersama-sama mengembangkan ide untuk menciptakan semacam karya seni global yang memungkinkan orang melakukan perjalanan ke titik mana pun di dunia, hanya dengan memperbesar lokasi dengan mengklik perangkat seperti mouse saat ini.

Kinerja teknologi komputer di awal 1990an tidak cukup mumpuni bagi proyek mereka. Namun setelah mendapat bantuan dari Deutsche Telekom dan peretas berpengalaman anggota Chaos Computer Club, visi mereka terwujud. Proyek yang diberi nama Terra Vision itu berhasil. Juri sendiri merupakan anggota klub hacker itu.

Adegan ketika para pengunjung pameran terkagum-kagum dengan Terra Vision

Karya mereka sukses besar ketika dipamerkan di Kyoto, Jepang, pada tahun berikutnya. Di Kyoto, para pengunjung International Telecommunication Union (ITU) beramai-ramai menggunakan Terra Vision, untuk mengunjungi tempat kelahiran mereka melalui peta interaktif. Membuat beberapa pengunjung terkagum-kagum dan meneteskan air mata.

Perjalanan berlanjut ke Silicon Valley. Di sinilah source code Terra Vision jatuh ke tangan yang salah. Hingga akhirnya pada 2005, Google yang sudah menjadi raksasa teknologi, tiba-tiba merilis Google Earth.

Pengacara Art+Com menunjukkan kesamaan Terra Vision yang dibuat tahun 1994 dengan Google Earth tahun 2011

Keduanya merasa Google mencuri ide mereka dan menggunakan algoritma Terra Vision.

Lantas, benarkah Google mencuri ide Terra Vision?

Saya coba membuka sejarah Google Earth di Wikipedia. Di situ tertulis bahwa teknologi inti di balik Google Earth awalnya dikembangkan di Intrinsic Graphics pada akhir 1990-an. Pada saat itu, perusahaan sedang mengembangkan perpustakaan perangkat lunak game 3D. Sebagai demo perangkat lunak 3D, mereka menciptakan bola dunia berputar yang dapat diperbesar, mirip dengan film Powers of Ten.

Demonya populer, tetapi direksi Intrinsic ingin tetap fokus pada game, sehingga pada tahun 1999, mereka menciptakan Keyhole, Inc., yang dipimpin oleh John Hanke. Singkatnya, produk yang disebut “Keyhole EarthViewer” dijual dalam bentuk CD untuk digunakan di bidang-bidang seperti real estat, perencanaan kota, pertahanan, dan intelijen; di mana pengguna membayar biaya tahunan untuk layanan tersebut.

Namun bagi Carsten dan Juri, Terra Vision adalah dasar bagi Google Earth, Google Maps, dan semua sistem navigasi yang digunakan saat ini.

Penjelasan tentang TerraVision di website Joachim Sauter

The Billion Dollar Code sendiri adalah miniseri fiksi, namun inspirasinya berasal dari kisah Profesor Joachim Sauter, seorang seniman yang membantu mengembangkan “Terra Vision” di awal 1990-an dan benar-benar menggugat Google ke pengadilan. Joachim sendiri turut terlibat dalam proses pembuatan film ini. Namun dia meninggal dunia sebelum film ditayangkan. Pada akhir miniseri, bagian kredit film menyebutkan dedikasi film ini untuk Joachim.

Pada akhirnya Art+Com memang kalah di pengadilan paten. Google dinyatakan tidak mencuri paten Terra Vision. Namun pembuat film ini, sutradara Robert Thalheim dan penulis naskah Oliver Ziegenbalg, seperti ingin menunjukkan bagaimana kasus-kasus pelangaran paten yang melibatkan raksasa-raksasa teknologi banyak terjadi. Pada ujungnya, para raksasalah yang kerap dimenangkan.

avatar Tidak diketahui

Penulis: NBN

Strategic Management; Strategic Communication; Enterpreneurship; Media and Social Media.

2 tanggapan untuk “The Billion Dollar Code: Benarkah Google Earth Ide Curian?”

Tinggalkan komentar