Resensi film: Bob Roberts

Kamis 22 Oktober pukul 15.00 WIB, aku menghadiri undangan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk menonton film tentang perjalanan seorang politisi untuk meraih kursi senator. Tiba di Kedutaan AS lebih cepat beberapa menit membuatku harus menunggu selama sekira setengah jam. Ternyata aku dan temanku, Ahmad Dhani, datang lebih dahulu dibanding undangan yang lainnya. Bersama kami ada Satrio Arismunandar, produser di Trans TV.

Film diputar sekira pukul 15.30 WIB, dan berjudul Bob Roberts. Film diputar tanpa subtitle. Sayangnya, penayangan terhenti di tengah jalan lantaran DVD yang diputar bermasalah. Aku yang penasaran dengan akhir ceritanya pun langsung googling mengenai film ini.

Berikut cerita singkat mengenai film ini, yang aku sadur dari Wikipedia:

Bob Roberts merupakan dokumenter pura-pura dengan nada mengejek (mockumentary satire) yang mengisahkan perjalanan seorang politisi bernama Bob Roberts. Bob merupakan seorang politisi konservatif yang maju untuk pemilihan senat di Amerika Serikat. Bob adalah kandidat yang masih berusia muda, kaya, dan juga seorang musisi balada.

Film berlatar belakang tahun 1992 saat masih berlangsungnya Perang Teluk, dan menggambarkan khayalan tentang pertarungan memperebutkan kursi senat antara Bob (Tim Robbins) dengan calon incumbent dari Partai Demokrat Brickley Paiste (Gore Vidal). Alur dalam film ini diambil melalui perspektif Terry Manchester (Brian Murray), seorang pembuat film dokumenter asal Inggris yang mengikuti kampanye Bob Roberts.

Melalui lensa kamera Manchester, penonton dapat melihat perjalanan Bob Roberts ke seluruh penjuru negara bagian, untuk menyanyikan lagu tentang narkoba dan lainnya.

DI tengah-tengah masa kampanye, Paiste, lawan Roberts, selalu unggul hingga skandal dia dengan seorang gadis muda mencuat ke publik. Muncul rekaman Paiste dan seorang perempuan yang berusia jauh lebih muda keluar dari sebuah mobilnya. Paista mengklaim gadis itu adalah teman cucu perempuannya yang dia antara pulang.

Lain pula persoalan yang dialami Bob Roberts. Seorang wartawan bernama Bugs Raplin (Giancarlo Esposito) berusaha memanfaatkan dokumenter yang dibuat tentang Roberts itu sebagai cara untuk mengekspos kejahatan yang dilakukan Roberts. Raplin mengklain kegiatan antinarkoba Robert, Broken Dove, terkait dengan skema penyelundupan narkoba oleh Central Intelligence Agency (CIA).

Singkat cerita, saat meninggalkan sebuah acara, Roberts tertembak. Raplin, yang saat itu berada dekat dengan Roberts –untuk mewawancarainya–, akhirnya menjadi tertuduh penembakan itu. Namun belakangan diketahui ada masalah pada tangan kanan Raplin, sehingga bisa dipastikan dia tidak akan bisa memegang senjata.Raplin pun berjuang untuk membuktikan dirinya tidak pernah menembak Robert dan senjata itu ditembakkan ke tanah, bukan ke Roberts. Roberts pun sebenarnya tidak mengalami luka sedikitpun.

Pascainsiden penembakan –yang tidak pernah terjadi– itu, popularitas Roberts menanjak hingga akhirnya dia memenangi pemilihan dengan 52 persen suara.

Untuk selanjutnya, bisa menonton filmnya sendiri. Hehehe.. Ringkasnya, film ini menggambarkan praktik kotor politik yang penuh kemunafikan dan kebohongan, dan menjadi praktik biasa dalam politik di Negeri Paman Sam.

Film berdurasi 102 menit ini disutradarai Tim Robbins dan diluncurkan pada 4 September 1992.

Banyak kritikus mengait-kaitkan karakter Roberts dalam film ini dengan sejumlah figur politik, seperti George HW Bush (ayah Presiden AS George W Bush), dan senator asal Pennsylvania Rick Santroum. Namun Tim Robbins menegaskan film ini tidak terkait dengan seorang politisi secara spesifik atau partai politik tertentu (meskipun Senator Paiste diidentifikasikan sebagai Demokrat dan otomatis Roberts dianggap sebagai kandidat Republik).

avatar Tidak diketahui

Penulis: NBN

Strategic Management; Strategic Communication; Enterpreneurship; Media and Social Media.

Tinggalkan komentar