Turunkan harga BBM

SPBU di AS (AP)
SPBU di AS (AP)

Harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir mengalami penurunan yang signifikan. Penurunan ini semestinya disambut dengan turunnya harga bahan bakar minyak (BBM), baik yang bersubsidi atau nonsubsidi.

Desakan untuk menurunkan harga BBM beberapa hari ini muncul terutama dari kalangan pengusaha. Alasan yang dikemukakan antara lain, untuk mengurangi beban masyarakat dan untuk mengurangi biaya tinggi di sektor industri saat terjadi krisis global.

Desakan tersebut sangat beralasan. Saat ini harga minyak dunia sudah turun lebih dari 50 persen dibandingkan harga tertingginya pada 11 Juli yang mencapai USD147,27. Sementara pada perdagangan kemarin, minyak mentah untuk pengiriman November diperdagangkan USD73,88 per barel. Bahkan harga si emas hitam sempat turun ke level di bawah USD70 per barel.

Bandingkan dengan harga USD120 per barel saat pemerintah menaikkan harga BBM domestik sebesar 28,7 persen pada 24 Mei. yang ketika itu mencapai USD120 per barel. Artinya, sejak 24 Mei itu, harga minyak mentah sudah turun sekira USD50 dolar per barel.

Penurunan harga BBM di tengah krisis keuangan yang melanda dunia saat ini adalah tepat. Turunnya harga BBM itu akan diikuti menguatnya daya beli masyarakat, sehingga akan meningkatkan penyerapan produk industri dari sektor riil.

Sementara bagi dunia usaha, di tengah seretnya likuiditas, tingginya suku bunga pinjaman, dan ketidakpastian nilai tukar, turunnya harga BBM akan menjadi penyejuk yang menyemangati dunia usaha untuk terus tumbuh dan berproduksi.

Langkah penurunan harga BBM sudah dilakukan sejumlah negara, seperti Malaysia dan Vietnam. Malaysia tercatat tiga kali menurunkan harga BBM, sedangkan Vietnam sudah dua kail menurunkannya pada Agustus dan September lalu.

Sayangnya, saat ini pemerintah Indonesia masih bersikeras menggunakan acuan ICP (Indonesia Crude Price) APBNP 2008 sebesar USD110. Padahal, harga riil ICP saat ini cenderung turun. Semestinya pemerintah menurunkan patokan ICP itu menjadi rerata antara ICP pada APBNP dengan ICP riil.

Kini masyarakat dan dunia usaha berharap pemerintah berpikir keras untuk mencari solusi terbaik, demi tetap hidupnya sektor dunia usaha, tanpa mengorbankan angka penerimaan negara yang akan turun dari penurunan patokan ICP itu, sebagai imbasnya.

avatar Tidak diketahui

Penulis: NBN

Strategic Management; Strategic Communication; Enterpreneurship; Media and Social Media.

Tinggalkan komentar