Dua Jumat

Dua salat Jumat terakhir yang kujalani, memberi kesan berbekas. Dalam dua pekan ini, jadwal di kantor memang memungkinkanku untuk salat di masjid Al Ikhlas, di dekat rumah. Masjid ini sudah berdiri semenjak saya masih kecil, dan di masjid inilah saya mendapatkan banyak pengetahuan dasar tentang Islam, semenjak sebelum saya nyantri di pondok pesantren.

Pada jumat pekan lalu, seorang habib berdiri seusai menutup salat Jumat dengan salam. Dia berpakaian jubah serba putih, dengan surban di kepalanya. Lantas dia berbicara dengan suara lantang di hadapan jamaah. Tampaknya, ada yang ingin dia sampaikan, namun sengaja tak disampaikannya ketika khutbah. Memang sebelumnya, isi khutbah dia terbilang biasa, hanya sekadar memenuhi kewajiban rukun untuk menyampaikan pesan taqwa.

Dia berbicara tentang film Fitna, yang dibuat anggota parlemen Belanda, Geert Wilders. Dari gaya bicaranya, awalnya saya menduga dia ingin mengompor-kompori jamaah dengan semangat berperang melawan kaum kafir. Namun ternyata dugaan saya salah.

Dengan bijak, dia menuturkan, apa yang dilakukan Wilders adalah karena ketidaktahuan dia tentang Islam. Islam, ditegaskan dia, bukan agama yang mengajarkan kekerasan dan pertumpahan darah. Namun, Islam mengajarkan umatnya untuk melawan segala penindasan yang dilakukan umat lain. Sungguh pesan yang sangat indah.

Sedangkan di hari Jumat kemarin, khutbah diisi seorang khatib yang masih berusia muda. Menurut kisaranku, dia masih berumur 35-40 tahun. Dia memakai safari, berpeci hitam. Bekas sujud terlihat di keningnya.

Materi yang dia sampaikan sangat menarik. Memberikan motivasi, sangat logis, dengan argumentasi, data ilmiah, dan dibumbui dalil-dalil naqli Alquran.

Kata dia di awal khutbah, bangsa ini sekarang bisa dibilang tengah berada di ujung tanduk. Sederet persoalan mendera, dan tak mudah untuk diselesaikan. Persoalan terjadi di setiap sektor, kesehatan, pendidikan, sosial, politik, hukum, hingga kebudayaan.

Namun, kata dia, tak ada alasan bagi penduduk negeri ini, khususnya umat Islam, untuk pesimis. Lantas dia menyitir ayat di surat Al-Insyirah: “Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Dan sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan” (Fainna ma’a al ‘usri yusra. Inna ma’a al ‘usri yusra).

Ditekankan dia, Allah menggunakan kata “ma’a” (bersama) dalam kalimat itu, dan bukan “ba’da” (sesudah), untuk menegaskan, bahwa bersama setiap kesulitan, selalu ada banyak kemudahan. Bukan, setelah setiap kesulitan, akan ada kemudahan.

Ayat itulah yang sepatutnya menjadi pegangan agar umat Islam selalu optimis, meski persoalan terus mendera. Dalam konteks keindonesiaan, ada banyak alasan yang dapat membangkitkan optimisme itu. Indonesia, dalam penuturan dia, memiliki modal yang luar biasa untuk menjadi yang terbaik di tengah percaturan dunia.

Indonesia memiliki sumber daya manusia yang luar biasa; sumber daya alam yang masih melimpah, meski telah banyak yang dijarah, juga modal sejarah yang dapat membangkitkan semangat perjuangan.

Saat dia berbicara, saya teringat tulisan Aymeric Chauprade, seorang profesor geopolitik dari Prancis. Seperti telah saya tulis dalam posting sebelumnya, Indonesia dapat menjadi salah satu kekuatan utama dunia, bersama dengan Rusia dan India, yang pada gilirannya dapat menjadi penyeimbang dalam politik dunia. Indonesia, lanjut dia, dalam segi apapun memiliki semua yang dibutuhkan untuk mengembangkan politik penyeimbangan dalam dunia internasional.

Wallahu a’lam


avatar Tidak diketahui

Penulis: NBN

Strategic Management; Strategic Communication; Enterpreneurship; Media and Social Media.

Tinggalkan komentar