Satu dari 2,7 pria berselingkuh. Kebanyakan, istri-istri mereka tidak akan pernah mengetahui ulah pasangannya itu. Lanjutkan membaca “Selingkuh, Tak Melulu Soal Seks”
Sudah Baikkah Puasa Kita?

Kebanyakan orang memahami arti puasa secara harfiah, yaitu menahan lapar sebagai latihan pengendalian diri. Di sini, ketika sudah merasa berpuasa dengan menahan lapar, dahaga, dan syahwat, mereka menganggap telah menjalankan rukun agama ketiga itu dengan baik.
Padahal tidak demikian. Kita seringkali lalai akan makna hakiki puasa. Namun akhirnya, setelah menjalankan ibadah itu, tidak ada perubahan di bulan berikutnya. Pengalaman keagamaan yang diperolehnya selama menjalankan ibadah di bulan Ramadan tidak berbekas sedikit pun.
Lanjutkan membaca “Sudah Baikkah Puasa Kita?”
Menakar Religiusitas Ebiet G Ade
Tak mudah menilai tingkat keberagamaan seseorang. Selain bersifat abstrak, religiusitas seorang anak manusia sangat bersifat personal. Namun setidaknya, seberapa dalam pemahaman keberagamaan seseorang bisa dinilai dari karya yang dilahirkannya.
Sama halnya ketika menilai sejauh apa pengalaman spiritual yang dilalui Ebiet G Ade, penyanyi cum penyair. Tentunya, ada permenungan panjang terhadap pengalaman kehidupan pria kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954 silam ini. Lanjutkan membaca “Menakar Religiusitas Ebiet G Ade”
Menguji Ketangguhan Kapitalisme
Kapitalisme tengah mengalami ujian berat saat ini. Raksasa-raksasa keuangan satu per satu berjatuhan. Dari perusahaan pembiayaan hipotek macam Freddie Mac dan Fannie Mae, bank investasi terbesar keempat di AS Lehman Brothers, hingga raksasa asuransi American International Group (AIG).
Mantan Gubernur Bank Sentral Negeri Paman Sam Alan Greenspan menyebut, krisis yang terjadi saat ini adalah yang terburuk yang pernah dia saksikan. Krisis ini, menurut dia, akan berlangsung lama.
Bahkan, Presiden AS George W Bush, yang semula menganggap krisis ini sebagai sebuah penyesuaian kecil, akhirnya mengakui negerinya tengah menghadapi bahaya.
Hari-hari belakangan ini media massa pun tak surut memberitakan keruntuhan raksasa-raksasa keuangan Negeri Paman Sam, yang diikuti gejolak di pasar-pasar saham di belahan dunia lain. Harian Denmark Information misalnya, menulis kebangkrutan ini terjadi karena rasa percaya diri berlebihan dan spekulasi para investor. Sementara The Times di Inggris menulis, para petinggi bank investasi saat ini harus membayar mahal sikap sombong mereka, yang kerap bermain api dengan dana kliennya.
Lanjutkan membaca “Menguji Ketangguhan Kapitalisme”
Iklan Koran Merosot, Kematian Semakin Dekat?
Pendapatan iklan surat kabar mengalami penurunan yang tajam. Di Amerika Serikat, total pendapatan iklan surat kabar anjlok USD3 miliar pada enam bulan pertama tahun ini menjadi 18,8 miliar. Ini merupakan angka terendah selama puluhan tahun, berdasarkan data yang dipublikasikan Newspaper Association of America.
Alan Mutter dari Reflections of a Newsosaur mengatakan, penurunan ini sudah terjadi selama sembilan kuartal sebelumnya selama berturut-turut (lihat grafik). Selain surat kabar, media-media online juga mengalami penurunan pendapatan iklan. Namun tidak separah yang dialami media tradisional itu.
Laporan yang dikutip di TechCrunch itu mengingatkanku pada tulisan yang kubuat beberapa hari lalu. Surat kabar The New York Sun akan ditutup akhir September ini. Alasannya, surat kabar lokal New York ini terus menerus mengalami kerugian akibat pemasukan iklan yang terus anjlok. Lanjutkan membaca “Iklan Koran Merosot, Kematian Semakin Dekat?”
Usut Intervensi Asing dalam UU Migas
Adanya intervensi asing dalam penyusunan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas sepertinya bukan isapan jempol. Sejumlah dokumen yang diungkap dalam rapat Panitia Angket Bahan Bakar Minyak DPR pada 27 Agustus dan 4 September kemarin memperkuat dugaan itu.
Misalkan saja dokumen Program Reformasi Sektor Energi yang dipampang di situs USAID dan menyebutkan adanya bantuan senilai Rp200 miliar untuk asistensi revisi UU Migas. Juga radiogram (teletex) dari Washington berisi desakan untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan yang diinginkan Negeri Paman Sam, seperti mengkaji ulang RUU Minyak dan Gas. Ada pula laporan Bank Dunia berjudul Proyek Energi Indonesia tertanggal 17 November 2000, dengan nilai proyek sebesar USD730 juta. Lanjutkan membaca “Usut Intervensi Asing dalam UU Migas”
Google Chrome
Google akhirnya meluncurkan browser garapannya. Namanya Google Chrome. Beberapa saat setelah Chrome diluncurkan, aku langsung mengunduh browser yang fully open source ini.
Kesan pertama, tampilannya sangat sederhana. Ben Goodger, salah seorang software engineer yang menggarap Chrome, mengatakan browser ini memang mengusung user interface yang clean, simple, dan efficient.
Dari sisi tampilan, Chrome memang berbeda dengan browser lainnya. Tidak ada baris menu yang terpampang. Tab-tab halaman pun diletakkan di atas box pengetikan URL. Uniknya lagi, masing-masing tab itu ‘bertanggung jawab’ atas ‘perbuatannya’ sendiri. Artinya, jika terjadi trouble pada salah satu tab, maka tidak akan mengganggu kerja halaman di tab yang lainnya. Lanjutkan membaca “Google Chrome”
Puasa, Sebuah Empati Sosial
Sejatinya, menjalankan ibadah tidak sekadar ritual. Ada maksud Tuhan di balik perintah-Nya melalui kitab suci. Ada aspek vertikal, ada pula aspek horizontalnya. Ada aspek teosentris (ketuhanan), ada pula aspek antroposentrisnya (kemanusiaan).
Lanjutkan membaca “Puasa, Sebuah Empati Sosial”
Puasa untuk Meneladani Sifat Allah
Marhaban ya Ramadan... Ucapan selamat datang terlontar menjelang kedatangan bulan suci Ramadan. Marhaban dalam kamus Bahasa Indonesia berarti penghormatan kepada tamu. Selamat datang Ramadan terucap sebagai perwujudan kerinduan pada limpahan kesempatan bagi umat Islam. Kesempatan untuk peningkatan ketaqwaan dan kesempatan untuk memperoleh berkah. Lanjutkan membaca “Puasa untuk Meneladani Sifat Allah”
Let’s Get Online
Ini paper yang kusampaikan dalam seminar di Universitas Gunadarma, Depok, 27 Agustus lalu. Selain diriku, yang menjadi pembicara saat itu adalah Dr dr Erik Tapan, MHA dan Dr dr Eri Prasetyo Wibowo. Sedangkan yang menjadi moderator adalah Dr I Wayan Simri Wicaksana, S.Si, M.Eng.
Ini fotonya, digrab dari blognya Pak Erik Tapan (eriktapan.blogspot.com)
Kangen Puan

Pulang bekerja adalah hal yang menyenangkan buatku. Maklum, jam kerjaku bisa dibilang cukup panjang, jika dibandingkan dengan menjadi pegawai negeri. Pulang pukul delapan malam terhitung cepat. Dan jika sudah tidak ada yang dikerjakan, pada pukul itulah aku pulang. Teman-teman di kantor, terutama yang masih bujang, bahkan pulang lebih larut. Lanjutkan membaca “Kangen Puan”
Akhirnya 20 Persen
Lega rasanya mendengar pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di DPR. Selain berisi kabar baik mengenai peningkatan pertumbuhan perekonomian 6,39 persen, pemerintah menyatakan komitmennya untuk memenuhi anggaran pendidikan 20 persen dari APBN 2009. Lanjutkan membaca “Akhirnya 20 Persen”
Mahalnya Jakarta, Beban Masyarakat & Tantangan Bisnis
Mercer Human Resource Consulting mengeluarkan laporan survei tahunan yang cukup mengejutkan. Lembaga itu menemukan fakta Jakarta sebagai kota dengan biaya hidup termahal kedua di Asia Tenggara. Bahkan, biaya hidup di Jakarta lebih mahal ketimbang di Washington DC.
Di tingkat dunia, Jakarta menempati urutan ke-82 mengalahkan kota-kota penting di kawasan Asia Tenggara seperti Ho Chi Minh di peringkat 100, Bangkok (105), Kuala Lumpur (106), dan Manila (110).
Temuan tersebut sebenarnya tidak mengherankan. Warga ibu kota sudah merasakan besarnya ongkos bulanan yang harus dikeluarkan untuk hidup di kota yang penuh kemacetan dan polusi ini.
Bagi masyarakat umum, setiap tahunnya terjadi pergeseran rata-rata nilai konsumsi rumah tangga per bulan yang cukup berarti belakangan ini. Dalam survei yang dilakukan BPS pada periode 2002-Mei 2006, perubahan nilai konsumsi di sejumlah daerah rata-ratanya mendekati 50 persen. Ini berarti anggaran yang dikeluarkan rumah tangga dari tahun ke tahun semakin besar. Angka itu belum termasuk dampak dari kenaikan BBM dan gas oleh pemerintah belum lama ini.
Sayangnya, beban hidup yang semakin besar itu tidak diiringi meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Indef menyebutkan angka kemiskinan pada 2008 berada pada posisi 15,7 persen. Angka itu masih akan meningkat pada 2009 menjadi 16,82 persen.
Selain bagi masyarakat umum, mahalnya biaya hidup tentu akan berdampak bagi investor dalam memilih lokasi berbisnis.
Michael Backman (2008) dalam bukunya Asia Future Shock menulis, Indonesia adalah tempat yang tinggi biaya untuk berbisnis. Alasan sebenarnya adalah ruwetnya mengurus segala sesuatu. Belum lagi rendahnya tingkat transparansi dalam pelayanan publik. Ironisnya lagi, banyak pihak yang berkepentingan dalam mempertahankan transparansi yang rendah ini.
Lontaran Backman itu cukup beralasan. Salah satunya terbukti pada 30 Mei lalu saat Komisi Pemberantasan Korupsi menemukan sejumlah amplop berisikan uang yang diduga sebagai praktik gratifikasi di kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok. Total uang yang ditemukan senilai Rp300 Juta. KPK menduga amplop itu berasal dari para eksportir dan importir yang ingin diberi kemudahan dalam pengurusan dokumen bea dan cukai.
Laporan yang dilansir Mercer itu sesungguhnya dapat membantu para pengambil kebijakan untuk melihat betapa beratnya beban hidup yang dirasakan masyarakat. Kondisi demikian tentunya juga menjadi tantangan untuk menjadikan Indonesia, khususnya Jakarta, sebagai tempat yang menarik untuk berbisnis.
Einstein: Percaya Tuhan Itu Takhayul

Albert Einstein mendeskripsikan kepercayaan terhadap Tuhan sebagai “takhayul yang kekanak-kanakan”. Ilmuwan besar fisika ini juga mengatakan umat Yahudi bukanlah orang-orang terpilih.
Itu dikatakan dia dalam suratnya semasa hidup, yang dijual di London oleh sebuah rumah lelang. Demikian dikatakan seorang juru lelang, seperti dikutip AFP, Rabu (14/5/2008).
Bapak relativitas, yang pandangannya terhadap agama dikenal ambivalen dan memicu banyak perdebatan, membuat pernyataan ini sebagai respons terhadap seorang filosof pada 1954.
Sebagai seorang Yahudi, Eisntein mengatakan dirinya memiliki pertalian yang baik dengan warga Yahudi, namun dia mengatakan “Mereka (Yahudi) tidak memiliki perbedaan kualitas bagi saya dibandingkan orang lainnya”.
“Kata Tuhan bagi saya tidak lebih dari ekspresi dan produk kelemahan manusia,” kata dia dalam surat tertanggal 3 Januari 1954, yang ditujukan kepada filosof Eric Gutkind, seperti dikutip surat kabar The Guardian.
Surat berbahasa Jerman itu dijual Rumah Lelang Bloomsbury di Mayfair setelah menjadi koleksi pribadi selama lebih dari 50 tahun, kata juru lelang Rupert Powell.
“Bagi saya, agama Yahudi seperti lainnya adalah penjelmaan dari takhayul yang kekanak-kanakan,” ujar ilmuwan yang terkenal dengan rumus E=MC2 ini.
Einstein menambahkan: “Sepanjang pengalaman saya, tidak ada kelompok manusia yang lebih baik dari kelompok lainnya.”
Sebelumnya, ilmuwan besar ini terkenal dengan komentarnya seperti “Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang, dan agama tanpa ilmu pengetahuan buta”.
Powell mengatakan surat Einstein itu telah dijual pekan ini dan memberi kejelasan tentang pemikiran Einstein sesungguhnya tentang persoalan tersebut.
Saling Tuding Soal Minyak
Harga minyak dunia hingga kini masih saja tidak terkendali. Tidak ada yang mengetahui pasti apa faktor terkuat yang membuat harga emas hitam itu terus merangsek naik dan menyulitkan kehidupan umat manusia.
Sementara itu, para pemimpin dunia saling berdebat tentang apa penyebabnya, seperti yang terjadi dalam konferensi produsen dan konsumen minyak di Jeddah Minggu 22 Juni kemarin.
Raja Abdullah dari Arab Saudi dan negara-negara OPEC menuduh para spekulanlah yang bertanggung jawab. Sementara peserta konferensi dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat menyalahkan tingkat produksi minyak yang rendah.
Pernyataan AS dan sekutu Baratnya itu senada dengan Badan Energi Internasional (IEA), bahwa dunia butuh investasi baru tak kurang dari USD5,4 triliun menutup kekurangan pasokan minyak dunia. Sementara OPEC berpendapat, saat ini pasokan minyak dunia sudah cukup.
Yang pasti, naiknya harga minyak hingga mendekati USD140 barel per hari atau sebanyak tujuh kali lipat dibandingkan enam tahun lalu itu memberikan keuntungan bagi segelintir kelompok, terutama para spekulan kelas dunia. Para spekulan tentu juga terus menyaksikan perdebatan itu, dan terus berharap harga minyak terus naik. Spekulan membeli minyak dalam kuantitas banyak, bukan untuk kepentingan produksi, melainkan untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.
Semua pihak kini saling menunggu. Negara-negara OPEC berharap harga terus naik dan tidak mau mengeluarkan produksinya untuk saat ini. Spekulan yang sudah menimbun minyak berharap harga juga terus naik. Sementara negara-negara konsumen minyak, termasuk Indonesia, hanya bisa berharap-harap cemas menunggu turunnya harga.
Merespons kondisi yang serba tidak pasti ini, penting bagi Indonesia untuk mengambil langkah yang tepat untuk jangka panjang. Terlebih, kondisi geopolitik di Timur Tengah dan pelambatan ekonomi AS juga menambah ketidakpastian itu.
Pemerintah sudah mencabut subsidi dan menaikkan harga minyak hingga mendekati 30 persen sebagai langkah pragmatis. Namun, jika harga minyak terus naik, bahkan hingga mencapai USD150 atau USD200 per barel, penggunaan bahan bakar alternatif adalah salah satu solusi yang harus dipercepat
Budaya Kekerasan yang Beranak Pinak

PRAKTIK kekerasan tak henti-hentinya mengisi ruang pandang anak bangsa. Bukan hanya disebabkan sentimen agama, seperti yang terjadi pada insiden Monas 1 Juni lalu. Kekerasan terjadi karena banyak faktor dan sangat kompleks, dari yang sepele, hingga bermotif agama, ras, yang terkadang dibumbui kepentingan ekonomi dan politik.
Kekerasan sepertinya sudah membudaya di negeri ini. Elizabeth Fuller Collins, peneliti Ohio University untuk kajian Asia Tenggara pernah menyebutkan itu. Kekerasan yang dahulu banyak dilakukan oknum militer dan aparatur negara, kini telah beranak pinak dan banyak dilakukan masyarakat biasa. Lanjutkan membaca “Budaya Kekerasan yang Beranak Pinak”
Berharap Rejeki Nomplok Windfall Tax
Pro dan kontra mengenai kenaikan harga BBM masih panas dibicarakan di Tanah Air. Meski mendapat tekanan dari berbagai kalangan di dalam negeri, pemerintah tetap ngotot menaikkannya. Alasannya, di tengah kenaikan harga minyak dunia, kenaikan BBM penting untuk menutupi defisit di APBN.
Padahal, kenaikan harga minyak dunia seharusnya memberi rejeki nomplok bagi negara ini. Rejeki nomplok itu berupa windfall profit seperti yang diboyong negara-negara anggota OPEC dari kenaikan harga emas hitam itu. Pemerintah Indonesia seharusnya juga bisa mendapatkan windfall tax dari kontraktor minyak dan gas yang beroperasi di Indonesia.
Lanjutkan membaca “Berharap Rejeki Nomplok Windfall Tax”
Membaca Masyarakat dalam Metafor Kebutaan
Sebuah kota tanpa nama tiba-tiba dilanda epidemi kebutaan massal. Tak pandang status. Seorang pelacur, pencuri mobil, polisi, bocah bermata juling, apoteker, bahkan seorang dokter mata. Buta yang putih, seperti lautan susu. Lanjutkan membaca “Membaca Masyarakat dalam Metafor Kebutaan”
Harga BBM Tak Pantas Naik!!!
Pro dan kontra mengenai kenaikan harga BBM ramai dibicarakan di Tanah Air. Meski mendapat tekanan dari berbagai kalangan di dalam negeri, pemerintah tetap ngotot menaikkannya. Alasannya, di tengah kenaikan harga minyak dunia, kenaikan BBM penting untuk menutupi defisit di APBN.
Alasan lainnya, subsidi BBM yang selama ini dikucurkan hanya dinikmati segelintir kelompok masyarakat kaya. Sehingga, mencabut subsidi dan dialihkan ke subsidi lainnya yang bersifat langsung dianggap langkah yang tepat.
Benarkah asumsi yang diajukan pemerintah itu? Tentu salah! Lanjutkan membaca “Harga BBM Tak Pantas Naik!!!”
Media Online & Profesi Jurnalis
Perkembangan internet telah mengubah profesi jurnalis dalam beberapa hal, hingga munculnya istilah jurnalisme digital, atau jurnalisme online. Adanya perubahan itu lantas memunculkan diskusi mengenai tiga karakteristik kunci dari media online: interaktivitas, personalisasi, dan konvergensi. Lanjutkan membaca “Media Online & Profesi Jurnalis”






